Radar Istana - kutai Semangat gotong royong kembali ditunjukkan warga Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartane...
Radar Istana - kutai
Semangat gotong royong kembali ditunjukkan warga Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Masyarakat secara swadaya memperbaiki jalan rusak sepanjang kurang lebih 1 kilometer, yang berada di jalur penghubung antara Desa Separi dan Desa Kerta Buana (L4).
Kegiatan tersebut merupakan inisiatif masyarakat, khususnya warga RT 3 Desa Separi, yang secara sukarela mengumpulkan iuran untuk membeli material batu latrit, guna menimbun jalan yang rusak parah.
Perbaikan ini, difokuskan untuk membuat jalur yang dapat dilalui sepeda motor, agar aktivitas warga tetap berjalan.
Perwakilan warga Desa Separi, **Rachmad Irjali**, menjelaskan bahwa kegiatan gotong royong ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan masyarakat, yang sebelumnya telah mengumpulkan dana secara swadaya.
“Ini kegiatan lanjutan dari tanggal 1 hari Minggu kemarin, dan warga Desa Separi khususnya RT 3 melakukan iuran untuk membeli batu latrit guna menimbun jalan yang ada di jalur L4.
"Jalan ini merupakan jalur utama, yang menghubungkan Desa menuju Kecamatan, Kabupaten hingga ke Samarinda,” ujarnya kepada awak media, melalui pesan WhatsApp ke media ini, Rabu (4/3/2026) malam.
Menurutnya, dari hasil iuran masyarakat berhasil terkumpul dana sekitar Rp1.250.000, yang kemudian digunakan untuk membeli tiga ret material batu latrit.
Sebagian dana juga digunakan untuk konsumsi warga, yang ikut bergotong royong.
“Alhamdulillah terkumpul Rp1.250.000. Ada yang menyumbang Rp50 ribu, ada juga Rp100 ribu. Dana itu digunakan untuk membeli tiga ret batu latrit," lanjutnya.
"Dan, sisanya Kami gunakan untuk membeli minuman dan roti bagi warga yang ikut bekerja," jelasnya.
"Nanti juga direncanakan akan dibacakan doa selamat di langgar, dan dibagikan nasi kepada warga,” tuturnya.
Rachmad menyebut kondisi jalan tersebut sudah rusak cukup lama, dan selama kurang lebih lima tahun belum mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah.
“Panjang jalan yang rusak sekitar 1 kilometer. Kurang lebih sudah lima tahun tidak ada perhatian, baik dari Pemerintah Desa, Kecamatan maupun Pemerintah Daerah,” katanya.
Ia menilai kerusakan jalan tersebut salah satunya disebabkan oleh aktivitas kendaraan berat, yang diduga melebihi kapasitas muatan atau Over Dimension Over Load (ODOL), yang melintas di jalur tersebut.
Menurutnya, kendaraan tersebut membawa muatan sawit maupun minyak dengan kapasitas besar.
“Kerusakan ini salah satunya karena adanya kendaraan bermuatan overload atau ODOL yang melintas. Ada yang mengangkut sawit dan juga minyak dengan muatan berkisar antara 5.000 liter hingga 20.000 liter,” ungkapnya.
Padahal, lanjut Rachmad, berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait lalu lintas dan angkutan jalan, serta regulasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), kendaraan dengan muatan berlebih dapat dikenakan sanksi.
“Jika merujuk pada aturan, kendaraan ODOL seharusnya bisa ditertibkan oleh pihak terkait seperti Kasat Lantas maupun Dinas Perhubungan," ucapnya.
"Dalam regulasi Kementerian PUPR juga disebutkan bahwa, pelanggaran dapat dikenakan sanksi administratif hingga pidana,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti peran perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
Menurutnya, aktivitas kendaraan perusahaan turut melintasi jalan yang kini rusak tersebut.
“Di sekitar sini ada aktivitas perusahaan seperti PT Jembayan Muara Bara(JMB) PT Mahakam Sumber Jaya(MSJ) dan PT Kitadin. Seharusnya ada perhatian melalui program CSR(Corporate Social Responsibility) dan Comdev(Community development), untuk membantu memperbaiki jalan yang juga digunakan masyarakat,” tegasnya.
Rachmad berharap Pemerintah maupun perusahaan dapat segera mengambil langkah konkret, untuk memperbaiki jalan tersebut secara permanen, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Kami berharap sebelum Lebaran jalan ini sudah diperbaiki lebih baik lagi, kalau bisa diaspal. Karena banyak keluarga kami dari luar daerah yang akan pulang kampung ke Desa Separi,” pungkasnya.
Saat ini, masyarakat berharap gotong royong yang mereka lakukan dapat menjadi perhatian pihak terkait, agar perbaikan jalan tidak hanya bergantung pada swadaya warga, melainkan mendapat dukungan nyata dari pemerintah maupun perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.
**REDAKSI.*** wan**




COMMENTS